Apa Itu SROI dan Bagaimana Cara Menghitungnya?
SROI memberi nilai uang pada perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dihasilkan sebuah program, lalu membandingkannya dengan investasi. Inilah cara kerja metodenya, kesalahan yang sering terjadi, dan penerapannya dalam TJSL serta PROPER
Poin Penting
- SROI membandingkan nilai hasil (outcome) sebuah program, yang dinyatakan dalam uang, dengan investasi yang dibutuhkan untuk menciptakannya, biasanya dalam bentuk rasio seperti 3:1
- Rasio yang kredibel sudah dikurangi perubahan yang tetap akan terjadi tanpa program (deadweight) dan bagian yang diciptakan pihak lain (atribusi)
- Rasio SROI adalah perkiraan nilai sosial, bukan imbal hasil tunai, dan tidak layak dibandingkan antarprogram yang sangat berbeda
- Di Indonesia, PROPER menilai inovasi sosial dengan metode SROI, dan Kementerian BUMN menetapkan target SROI untuk program TJSL pada 2023 dan 2024
Di Halaman Ini
Cepat atau lambat, pengelola program CSR atau TJSL akan ditanya berapa SROI programnya: oleh direksi, donor, atau penilai PROPER yang sedang menelaah inovasi sosial perusahaan. SROI (Social Return on Investment) menjawab pertanyaan sederhana, yaitu seberapa besar nilai yang diciptakan sebuah program dibandingkan dengan dana yang ditanamkan. Namun, jawaban yang kredibel menuntut lebih dari sekadar membagi satu angka dengan angka lain
Artikel ini membahas metodenya, standar yang menjadi acuan, contoh perhitungan dalam rupiah, kesalahan yang sering terjadi, serta penerapannya dalam TJSL BUMN dan PROPER
Apa Itu SROI?
A Guide to Social Return on Investment, rujukan utama metode ini, mendefinisikan SROI sebagai kerangka untuk mengukur dan memperhitungkan konsep nilai yang luas, yang mencakup biaya serta manfaat sosial, lingkungan, dan ekonomi. Hasil (outcome) seperti pendapatan yang naik, kesehatan yang membaik, atau waktu yang dihemat diberi nilai uang melalui proksi finansial, lalu dibandingkan dengan investasinya, biasanya dalam bentuk rasio. Rasio 3:1 berarti setiap rupiah yang diinvestasikan diperkirakan menciptakan nilai sosial senilai tiga rupiah
Rasio hanyalah ringkasan, bukan temuan utamanya. Panduan tersebut menegaskan bahwa SROI berbicara tentang nilai, bukan uang; uang hanya dipakai sebagai satuan bersama. Banyak nilai yang dihitung tidak pernah berwujud uang tunai sehingga rasio 3:1 tidak berarti ada pihak yang menerima kembali tiga rupiah. Laporan yang baik menuturkan kisah perubahan dengan bukti kualitatif, kuantitatif, dan finansial, serta menyebutkan setiap asumsi yang dipakai
SROI Evaluatif dan SROI Prakiraan
SROI evaluatif dilakukan setelah program berjalan, dengan memakai hasil yang sudah benar-benar terjadi. SROI prakiraan (forecast) memperkirakan nilai yang akan tercipta jika program mencapai hasil yang direncanakan. Panduan tersebut mencatat bahwa memulai dengan prakiraan sering kali lebih baik karena cara ini menunjukkan data apa saja yang perlu dikumpulkan. Analisis evaluatif bisa memakan waktu beberapa bulan, atau lebih singkat jika data hasil yang baik sudah tersedia
Siapa yang Menetapkan Standar SROI
SROI berakar pada akuntansi sosial serta analisis biaya dan manfaat. SROI Network, yang dibentuk pada 2007 sebagai wadah keanggotaan bagi para pendukung metode ini, kemudian berkembang menjadi dua organisasi yang saling terkait: Social Value International (SVI), jaringan global yang menetapkan standar praktik nilai sosial, dan Social Value UK, yang kini bernama Institute for Social Value. Panduan SROI pertama kali diterbitkan oleh Cabinet Office Inggris pada 2009, diperbarui pada 2012, dan dapat diunduh gratis dari situs SVI
Panduan edisi 2012 membangun SROI di atas tujuh prinsip. Kini SVI mencantumkan delapan Principles of Social Value: melibatkan pemangku kepentingan, memahami apa yang berubah, menilai hal yang penting, hanya memasukkan hal yang material, tidak mengklaim berlebihan, transparan, memverifikasi hasil, dan responsif. Prinsip kedelapan, yang ditambahkan belakangan, meminta organisasi bertindak berdasarkan apa yang ditunjukkan perhitungannya. SVI juga menyediakan jasa penjaminan (assurance) laporan secara independen dan basis data gratis berisi laporan SROI yang telah terbit
Cara Menghitung SROI dalam Enam Tahap
Panduan SROI menguraikan enam tahap yang dalam praktiknya saling tumpang tindih
- Tetapkan ruang lingkup dan identifikasi pemangku kepentingan. Sepakati tujuan, audiens, dan batas analisis, lalu catat semua pihak yang mengalami perubahan, baik positif maupun negatif
- Petakan hasil. Bersama pemangku kepentingan, susun peta dampak (impact map) yang menunjukkan bagaimana input menghasilkan keluaran (output) dan hasil (outcome). Menyelesaikan pelatihan adalah keluaran, sedangkan mendapatkan pekerjaan adalah hasil
- Buktikan hasil dan beri nilai. Kumpulkan data indikator, perkirakan berapa lama setiap hasil bertahan, lalu tetapkan proksi finansial, misalnya tambahan pendapatan atau biaya layanan sejenis
- Tetapkan dampak. Kurangi deadweight (perubahan yang tetap akan terjadi tanpa program), displacement (manfaat yang diimbangi kerugian di tempat lain), dan atribusi (bagian yang diciptakan pihak lain), lalu terapkan drop off untuk hasil yang memudar seiring waktu
- Hitung SROI. Proyeksikan nilai sepanjang durasi setiap hasil, diskontokan ke nilai sekarang, bagi dengan nilai input, lalu uji angka akhirnya dengan analisis sensitivitas
- Laporkan, gunakan, dan lembagakan. Bagikan temuan kepada pemangku kepentingan, tindak lanjuti, jadikan pengumpulan data hasil sebagai kegiatan rutin program, dan lakukan verifikasi
Pada tahap 5, rasio SROI membagi nilai sekarang (present value) manfaat dengan investasi, sedangkan rasio SROI bersih membagi nilai sekarang bersih (manfaat dikurangi investasi) dengan investasi. Keduanya dapat diterima asalkan laporan menyebutkan rasio mana yang dipakai. Untuk analisis sensitivitas, Panduan menyarankan agar Anda menunjukkan seberapa jauh setiap perkiraan utama harus berubah hingga rasio turun menjadi 1:1
Contoh Sederhana dalam Rupiah
Angka berikut bersifat hipotetis dan dibulatkan, semata untuk ilustrasi. Sebuah program penguatan mata pencaharian menelan biaya Rp1 miliar. Dalam satu tahun, 200 rumah tangga petani masing-masing memperoleh tambahan pendapatan bersih Rp10 juta. Agar sederhana, hasil ini diasumsikan hanya bertahan selama tahun tersebut
| Langkah | Perhitungan | Nilai |
|---|---|---|
| Nilai kotor hasil | 200 rumah tangga × Rp10 juta | Rp2 miliar |
| Dikurangi deadweight 30% | Rp2 miliar × 70% | Rp1,4 miliar |
| Dikurangi atribusi 20% | Rp1,4 miliar × 80% | Rp1,12 miliar |
| Rasio SROI | Rp1,12 miliar ÷ Rp1 miliar | Sekitar 1,1:1 |
Tanpa kedua pengurangan itu, program akan mengklaim rasio 2:1; setelah dikurangi, rasionya sekitar 1,1:1. Angka deadweight dapat diperkirakan dari desa pembanding yang pendapatan warganya juga naik, sedangkan atribusi dari layanan penyuluhan pertanian kabupaten yang melatih petani yang sama. Setiap persentase harus didukung bukti dan dijelaskan dalam laporan
Kesalahan Umum yang Melemahkan Analisis SROI
- Klaim berlebihan. Menganggap setiap perubahan positif sebagai hasil program sendiri, bertentangan dengan prinsip tidak mengklaim berlebihan
- Tidak melibatkan pemangku kepentingan. Hasil dan proksi yang dipilih di balik meja luput menangkap apa yang dihargai penerima manfaat, termasuk perubahan negatif atau yang tidak diharapkan
- Proksi yang lemah. Proksi yang kredibel berasal dari sumber terbitan yang tepercaya atau riset Anda sendiri. Biaya satuan rata-rata dapat melebih-lebihkan penghematan jika program hanya mengubah sebagian biaya
- Mengabaikan deadweight dan atribusi. Pada contoh di atas, dua pengurangan ini saja memangkas klaim hampir separuhnya
- Menganggap rasio sebagai laba. Rasio 3:1 adalah perkiraan nilai sosial, bukan uang tunai yang kembali ke perusahaan atau penerima manfaat
- Membandingkan rasio antarprogram. Panduan SROI mengingatkan bahwa membandingkan rasio saja antarorganisasi tidak tepat karena pemangku kepentingan dan pertimbangan yang dipakai berbeda. Bandingkan program dengan capaiannya sendiri dari waktu ke waktu
SROI di Indonesia: TJSL BUMN dan PROPER
TJSL BUMN
Program TJSL badan usaha milik negara diatur dalam Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-1/MBU/03/2023. Regulasi ini menetapkan prinsip terukur dampaknya dan menjadikan pengukuran kinerja program TJSL bagian dari indikator kinerja utama direksi, tetapi tidak menyebut metode pengukuran tertentu. SROI justru muncul melalui arahan kementerian: dalam paparan Desember 2023, Kementerian BUMN memasukkan pengukuran SROI atas program TJSL unggulan atau program creating shared value (CSV) ke dalam lima prioritas TJSL, dengan target KPI dalam RKAP 2023 dan 2024 berupa minimal tiga program yang diukur dengan SROI. Sejak Oktober 2025 kementerian tersebut digantikan oleh Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), jadi periksalah arahan terbarunya
PROPER
PROPER, program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup, kini diselenggarakan oleh KLH/BPLH (Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup), yang mengambil alih peran ini dari KLHK pada 2024. Aturan yang berlaku saat ini, Permen LH/BPLH 7/2025, efektif sejak 28 Agustus 2025 dan menggantikan Permen LHK 1/2021. Regulasi ini memasukkan inovasi sosial ke dalam penilaian kinerja yang melebihi ketaatan dan menyatakan bahwa aspek tersebut dinilai dengan metode SROI. Program unggulan inovasi sosial menjadi salah satu syarat kandidat peringkat Emas, dan lampirannya memberi skor pada pekerjaan SROI, termasuk kompetensi penyusun laporannya. SROI juga sudah dipakai untuk menilai inovasi sosial dalam aturan 2021. Artikel kami tentang TJSL BUMN dan PROPER membahas keduanya lebih rinci
Bagian ini merupakan penjelasan umum, bukan nasihat hukum. Regulasi dan arahan kementerian dapat berubah, jadi selalu periksa teks resmi terbaru
Kapan SROI Menjadi Alat yang Tepat
SROI sepadan dengan biayanya ketika sebuah keputusan bergantung pada perbandingan antara nilai dan sumber daya, misalnya saat memilih rancangan program atau meyakinkan penyandang dana untuk pendanaan jangka panjang. Panduan SROI menyebutkan bahwa metode ini kurang berguna jika strategi sudah ditetapkan dan sedang dijalankan, jika pemangku kepentingan tidak tertarik pada hasilnya, atau jika tujuannya semata membuktikan nilai tanpa peluang untuk mengubah apa pun. Untuk program yang kecil atau singkat, indikator hasil yang jelas, data dasar (baseline), dan pemantauan yang jujur sering kali sudah memadai
Peta dampak menelusuri rantai perubahan yang sama dengan Theory of Change (lihat Theory of Change vs Logical Framework), sementara sistem MEL mengumpulkan bukti hasil, deadweight, dan atribusi yang dibutuhkan SROI evaluatif
- Theory of Change
- SROI Prakiraan
- Pengumpulan Data MEL
- SROI Evaluatif
- Pembelajaran dan Perbaikan Desain
Kesimpulan
SROI adalah cara yang disiplin untuk memperhitungkan nilai yang diciptakan sebuah program, dinyatakan dalam uang agar dapat ditimbang terhadap biayanya. Kredibilitasnya justru datang dari langkah-langkah yang memperkecil angka utama: pelibatan pemangku kepentingan, proksi yang didukung bukti, dan pengurangan yang jujur. Bacalah rasio bersama asumsinya, lalu gunakan temuannya untuk memperbaiki program, bukan sekadar untuk melaporkannya
Layanan Monitoring, Evaluasi & Pembelajaran SIDIA menerapkan prinsip SROI saat mengukur perubahan yang terjadi setelah program berakhir
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu SROI?
SROI (Social Return on Investment) adalah kerangka untuk mengukur dan memperhitungkan nilai sosial, ekonomi, dan lingkungan yang diciptakan sebuah program. Setiap hasil diberi nilai uang melalui proksi finansial agar dapat dibandingkan dengan investasi, biasanya dalam bentuk rasio seperti 3:1
Bagaimana cara menghitung rasio SROI?
Kalikan setiap hasil dengan proksi finansialnya; kurangi deadweight, displacement, dan atribusi; terapkan drop off untuk tahun-tahun berikutnya; lalu diskontokan nilai masa depan menjadi nilai sekarang. Setelah itu, bagi total nilai sekarang dengan nilai seluruh input
Apa arti rasio SROI 3:1?
Artinya, setiap rupiah yang diinvestasikan diperkirakan menciptakan nilai sosial senilai tiga rupiah. Angka ini bukan imbal hasil tunai dan baru bermakna jika dibaca bersama asumsi di baliknya
Apa bedanya SROI evaluatif dan SROI prakiraan?
SROI evaluatif menilai hasil yang sudah benar-benar terjadi. SROI prakiraan (forecast) memperkirakan nilai yang akan tercipta jika program mencapai hasil yang direncanakan, dan paling berguna pada tahap perencanaan
Apakah SROI wajib untuk PROPER dan TJSL BUMN?
Berdasarkan Permen LH/BPLH 7/2025, PROPER menilai inovasi sosial dengan metode SROI, dan program unggulan inovasi sosial menjadi salah satu syarat kandidat peringkat Emas. Regulasi TJSL BUMN menetapkan prinsip terukur dampaknya tetapi tidak menyebut SROI; target SROI berasal dari arahan KPI kementerian
Sumber
- A Guide to Social Return on InvestmentThe SROI Network (Social Value International), 2012
- Principles of Social ValueSocial Value International
- Report AssuranceSocial Value International
- About UsInstitute for Social Value
- Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-1/MBU/03/2023 tentang Penugasan Khusus dan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Badan Usaha Milik NegaraKementerian Badan Usaha Milik Negara, 2023
- Program TJSL BUMN untuk Mendukung Pencapaian SDGsKementerian Badan Usaha Milik Negara, 2023
- Peraturan Presiden Nomor 105 Tahun 2025 tentang Badan Pengaturan Badan Usaha Milik NegaraPemerintah Republik Indonesia, 2025
- Peraturan Menteri Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 7 Tahun 2025 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan HidupKementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, 2025
- Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 1 Tahun 2021 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan HidupKementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2021
- Peraturan Presiden Nomor 182 Tahun 2024 tentang Kementerian Lingkungan HidupPemerintah Republik Indonesia, 2024
Butuh Bantuan untuk Hal Ini?
Tim kami dapat membantu Anda merancang, mengukur, dan melaporkan program seperti yang dibahas dalam artikel ini